Tangerang —Ekspresi Banten, Aktivitas penangkapan ikan sapu-sapu di kawasan Jembatan Bayur, Kota Tangerang, dilaporkan semakin masif dan berlangsung secara terbuka. Praktik ini diduga melibatkan jaringan pengepul yang secara sistematis menyerap hasil tangkapan untuk kemudian didistribusikan kembali ke pasar tertentu, tanpa pengawasan memadai dari otoritas terkait.
Fenomena ini tidak sekadar mencerminkan persoalan ekonomi informal, melainkan telah berkembang menjadi isu serius yang menyentuh dimensi kesehatan publik dan keberlanjutan lingkungan. Ikan sapu-sapu, yang diperoleh melalui metode penangkapan menjaring di perairan tercemar, diketahui memiliki potensi tinggi dalam mengakumulasi logam berat seperti merkuri, timbal, dan arsenik di dalam tubuhnya.
Secara ilmiah, konsumsi ikan dari habitat tercemar berisiko memicu gangguan kesehatan yang tidak bisa diremehkan. Mulai dari gangguan pencernaan seperti diare akut, kerusakan sistem saraf, hingga potensi kerusakan organ vital dalam jangka panjang. Kondisi ini menjadikan peredaran ikan sapu-sapu sebagai bahan konsumsi sebagai ancaman laten yang berpotensi menciptakan krisis kesehatan jika tidak segera ditangani.
Di sisi lain, dari perspektif ekologis, ikan sapu-sapu merupakan spesies invasif yang keberadaannya merusak keseimbangan ekosistem perairan. Kemampuannya berkembang biak dengan cepat serta perilaku menggali dasar perairan menyebabkan degradasi habitat alami ikan lokal. Lebih jauh, aktivitas biologisnya bahkan berkontribusi pada kerusakan infrastruktur seperti tanggul dan bantaran sungai, yang berpotensi meningkatkan risiko bencana lingkungan.
Ironisnya, aktivitas penangkapan dan distribusi ikan ini berlangsung nyaris tanpa kontrol. Oleh karena itu, publik mendesak agar Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Tangerang segera mengambil langkah tegas dan terukur. Penindakan tidak hanya perlu menyasar para penangkap di lapangan, tetapi juga jaringan pengepul yang menjadi simpul utama dalam rantai distribusi.
Penegakan regulasi harus dibarengi dengan edukasi kepada masyarakat terkait bahaya konsumsi ikan sapu-sapu dari perairan tercemar. Tanpa intervensi yang komprehensif, praktik ini berpotensi terus berkembang dan menimbulkan dampak multidimensi yang lebih luas.
Situasi di Jembatan Bayur saat ini menjadi cermin lemahnya pengawasan sekaligus urgensi hadirnya kebijakan yang responsif dan berbasis sains. Negara tidak boleh abai ketika ancaman terhadap kesehatan publik dan ekosistem telah berada di depan mata. (Ronny.R)
EkspresiBanten.id Partisipatif, Informatif & Aktif Berbagi Berita
