Kota Tangerang – Ekspresi Banten, Di atas kertas, Kota Tangerang tampak seperti kota yang nyaris sempurna. Anggaran jumbo, gedung pemerintahan megah, jargon pembangunan di mana-mana, dan baliho keberhasilan yang nyaris tak pernah absen di setiap sudut jalan.
Tahun 2026 saja, APBD Kota Tangerang menembus Rp5,53 triliun—angka yang bagi banyak daerah di Indonesia hanya bisa dibayangkan dalam rapat perencanaan. Pendapatan asli daerah (PAD) bahkan menyentuh lebih dari Rp3,2 triliun. Secara fiskal, kota ini bukan kota miskin. Ia kaya, sangat kaya.
Namun pertanyaannya sederhana: kalau anggarannya sebesar itu, kenapa masalah dasarnya masih terasa begitu dekat dengan rakyat?
Setiap musim hujan, sebagian titik kota masih akrab dengan genangan. Drainase diperbaiki, proyek normalisasi diumumkan, tetapi air tampaknya lebih hafal jalan pulang dibanding solusi permanen yang dijanjikan.
Jalan-jalan utama dipercantik, trotoar diperbarui, taman kota diperindah. Kota memang terlihat semakin instagramable. Tapi sayangnya, kemasan visual tidak selalu identik dengan kualitas hidup.
Sementara itu, data kemiskinan memang turun menjadi 5,19 persen pada 2025, sebuah capaian yang patut diapresiasi. Tetapi angka statistik sering kali tidak menceritakan antrean warga mencari pekerjaan, pedagang kecil yang omzetnya stagnan, atau lulusan muda yang lebih sering mengirim CV daripada menerima panggilan kerja.
Ironisnya, di tengah narasi “kota modern dan inklusif,” banyak warga masih bertanya sederhana:
“Kenapa hidup di kota kaya, tapi rasa sejahteranya belum merata?”
Ini bukan sekadar kritik. Ini cermin.
Karena pembangunan bukan hanya tentang berapa banyak proyek diresmikan, berapa panjang spanduk ucapan selamat dipasang, atau berapa banyak konten seremonial dipublikasikan.
Pembangunan sejati adalah ketika warga kecil merasa hidupnya lebih ringan.
Dan di sinilah sindiran paling telak untuk Kota Tangerang:
Anggaran boleh triliunan, pencitraan boleh berkelas, tapi jika rakyat masih sibuk bertahan hidup, mungkin yang dibangun selama ini lebih banyak tampilan… daripada perubahan.
Data boleh bicara keberhasilan.
Tapi jalan berlubang, banjir musiman, lapangan kerja yang sempit, dan keluhan warga… sering kali bicara lebih jujur.
Bisa jadi, yang bobrok bukan kotanya.
Melainkan keberanian untuk mengakui bahwa masih banyak yang belum benar-benar selesai. (RR)
EkspresiBanten.id Partisipatif, Informatif & Aktif Berbagi Berita
