Tangerang — Ekspresi Banten, Dinamika demokrasi lokal membutuhkan ruang kolaborasi yang mampu mempertemukan kekuatan informasi, kontrol sosial, dan keberpihakan terhadap kepentingan masyarakat. Berangkat dari semangat tersebut, Forum Media dan LSM Independen (FORMASI) resmi terbentuk sebagai wadah sinergi antara insan pers dan pegiat lembaga swadaya masyarakat di Kabupaten Tangerang.
Pembentukan FORMASI ditandai melalui pertemuan yang berlangsung di Sekretariat FORMASI, Perumahan Dadan Indah Blok BE, Kelurahan Bojong Nangka, Kecamatan Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang, Banten, Selasa (1/9/2026).
Pertemuan tersebut dihadiri Pembina FORMASI, Bang Chaerul, Ketua FORMASI, Bang Junet, jajaran pengurus, insan jurnalis media online, serta para pegiat LSM. Meski berlangsung dalam suasana kekeluargaan, pertemuan itu membawa gagasan yang lebih besar: membangun ruang komunikasi, pertukaran gagasan, dan konsolidasi kekuatan sipil dalam merespons berbagai persoalan publik.
Kehadiran FORMASI diharapkan tidak sekadar menjadi tempat berhimpunnya organisasi dan individu, melainkan menjadi ruang intelektual untuk mempertemukan perspektif media dan gerakan sosial. Media memiliki peran strategis dalam menghadirkan informasi kepada publik, sementara LSM mengambil posisi penting dalam pendampingan, pemberdayaan, pengawasan, serta advokasi masyarakat.
Dua peran tersebut dinilai memiliki titik temu yang kuat, yakni memastikan bahwa kepentingan publik tidak kehilangan ruang dalam proses pembangunan dan pengambilan kebijakan.
Ke depan, FORMASI berkomitmen membangun kemitraan dan sinergitas dengan pemerintah serta berbagai pemangku kepentingan. Kolaborasi tersebut diarahkan untuk mengawal pembangunan, mendorong pemberdayaan masyarakat, serta memperkuat advokasi terhadap berbagai persoalan sosial.
Namun demikian, kemitraan tidak dimaknai sebagai hilangnya independensi.
FORMASI menempatkan sikap kritis dan fungsi kontrol sosial sebagai bagian penting dari identitas organisasi. Komunikasi dan kolaborasi dengan pemerintah maupun stakeholder harus tetap berjalan dalam koridor objektivitas, berdasarkan fakta, aturan, serta kepentingan masyarakat luas.
Kemitraan boleh dibangun, tetapi independensi dan keberanian menyuarakan kepentingan publik tetap harus dijaga.
Dari sisi kelembagaan, proses formalisasi organisasi dan penyempurnaan kelengkapan legalitas FORMASI masih berjalan secara bertahap. Hal tersebut menjadi bagian dari upaya membangun organisasi yang memiliki fondasi administratif dan kelembagaan yang kuat.
Dalam arahannya, Pembina FORMASI, Bang Chaerul, berharap organisasi tersebut lahir dari niat baik dan mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya di Kecamatan Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang, hingga Provinsi Banten.
“Bismillah ya Allah ya Rob, semoga niat luhur kami mendapat ridhlo-Mu ya Rob. Semoga organisasi yang kami bentuk menjadi harapan, sekaligus kebanggaan masyarakat Kelapa Dua, Tangerang, dan Provinsi Banten.”
Sementara itu, Ketua FORMASI, Bang Junet, mengajak seluruh pengurus dan anggota untuk membangun organisasi dengan semangat kebersamaan, kerendahan hati, serta keterbukaan terhadap kritik dan masukan.
Menurutnya, organisasi yang sehat tidak boleh terjebak dalam sekat-sekat senioritas. Sebaliknya, setiap anggota harus memiliki ruang untuk belajar, berkembang, dan menyampaikan gagasan.
Ia menilai kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan zaman menjadi kebutuhan penting bagi organisasi agar tetap relevan dengan dinamika masyarakat.
Pada akhirnya, sebuah organisasi tidak hanya dapat diukur dari nama besar, struktur kepengurusan, maupun jumlah anggotanya. Nilai sebuah wadah justru terletak pada sejauh mana keberadaannya mampu membuka ruang komunikasi, membangun kolaborasi, serta menghadirkan manfaat konkret bagi masyarakat.
Dengan semangat silaturahmi, sinergitas, independensi, dan kontrol sosial, FORMASI diharapkan tumbuh menjadi bagian dari kekuatan masyarakat sipil yang konstruktif.
Bukan sekadar menjadi penonton dalam dinamika pembangunan, FORMASI diharapkan mampu mengambil peran sebagai jembatan komunikasi antara masyarakat dan pemangku kebijakan, sekaligus tetap berdiri kritis ketika kepentingan publik membutuhkan suara.
FORMASI lahir dengan satu kesadaran penting: sinergi bukan berarti kehilangan independensi, dan kritik bukan berarti permusuhan. Keduanya justru dapat berjalan beriringan demi terciptanya pembangunan yang lebih terbuka, berkeadilan, dan berpihak kepada masyarakat. (Red)
EkspresiBanten.id Partisipatif, Informatif & Aktif Berbagi Berita
