Kabupaten Tangerang – Ekspresi Banten, Pembangunan Tugu Titik Nol Kabupaten Tangerang yang berlokasi di kawasan Pusat Pemerintahan Kabupaten (Puspemkab) Tangerang, Kecamatan Tigaraksa, menuai kontroversi publik. Proyek yang menelan anggaran hingga Rp2,3 miliar tersebut dinilai tidak sebanding dengan bentuk fisik bangunan yang terlihat, sehingga memantik kritik dari aktivis dan masyarakat.
Ketua LSM GP2B, Umar Atmaja, secara tegas mengecam pembangunan tugu tersebut. Ia menilai penggunaan anggaran daerah harus mengedepankan asas skala prioritas, transparansi, dan kemanfaatan langsung bagi masyarakat, bukan sekadar simbol monumental yang berpotensi membebani keuangan daerah.
Menanggapi kritik tersebut, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Tangerang, Erwin Mawandy, meluruskan bahwa anggaran Rp2,3 miliar tidak hanya diperuntukkan bagi pembangunan tugu semata. Di balik tugu tersebut, Pemkab Tangerang juga merancang Taman Literasi Digital sebagai bagian integral dari proyek.
“Taman Literasi Digital ini nantinya akan dilengkapi berbagai perangkat teknologi informasi. Sistem pembelajaran akan berbasis teknologi, seperti audio, video, buku elektronik, ensiklopedia, hingga jurnal penelitian. Meski demikian, buku cetak tetap tersedia,” jelas Erwin, Rabu (24/12/2025).
Erwin menambahkan, fasilitas tersebut dirancang sebagai ruang edukatif publik yang akan menerima kunjungan rutin dari sekolah-sekolah di Kabupaten Tangerang. Operasional taman literasi ditargetkan mulai berjalan dalam waktu enam bulan ke depan, setelah seluruh sarana dan prasarana digital rampung.
“Kami menilai peningkatan literasi, termasuk rata-rata lama sekolah masyarakat, menjadi kunci keberhasilan pembangunan daerah. Terlebih dalam menyongsong Indonesia Emas 2045,” tambahnya.
Namun demikian, penjelasan tersebut belum sepenuhnya meredam keraguan publik. Salah seorang warga, Ronny, mengaku terkejut dengan besaran anggaran yang dikucurkan Pemkab Tangerang. Menurutnya, bangunan yang terlihat di belakang tugu tampak tidak merepresentasikan nilai anggaran miliaran rupiah.
“Jujur kaget melihat biayanya. Saya rasa bangunan ini anggarannya tidak sampai Rp2,3 miliar, enggak masuk di akal,” ujarnya.
Ronny berharap proyek tersebut benar-benar diwujudkan sesuai konsep yang dijanjikan pemerintah daerah, bukan sekadar menjadi ornamen estetika tanpa fungsi substansial.
“Semoga bangunan ini ke depan ramai pengunjung dan benar-benar menjadi sarana edukasi, bukan hanya pajangan,” pungkasnya.
Kontroversi pembangunan Tugu Titik Nol ini menjadi cermin pentingnya akuntabilitas kebijakan publik, khususnya dalam pengelolaan anggaran daerah. Publik kini menanti pembuktian nyata apakah proyek bernilai miliaran rupiah tersebut benar-benar menghadirkan dampak literasi dan pendidikan, atau justru menjadi simbol pemborosan anggaran. (RR)
EkspresiBanten.id Partisipatif, Informatif & Aktif Berbagi Berita
