Jakarta-Ekspresi Banten, Pernyataan yang dikutip dari Andi F. Noya kembali menggugah kesadaran publik tentang relasi antara negara dan rakyat dalam konteks keadilan ekonomi. Kalimat tajam itu berbunyi:
“Negara tidak mencarikan aku pekerjaan, tapi begitu aku dapat penghasilan, pajaknya begitu besar.”
Ungkapan tersebut bukan sekadar satire sosial, melainkan representasi kegelisahan banyak masyarakat yang merasa harus berjuang sendiri di tengah kerasnya kompetisi ekonomi, minimnya lapangan pekerjaan, serta beratnya beban hidup yang terus meningkat.
Di satu sisi, rakyat dituntut mandiri, kreatif, dan produktif untuk bertahan hidup. Mereka membangun usaha dari nol, bekerja tanpa jaminan, bahkan menciptakan peluang sendiri di tengah sistem yang kerap tidak berpihak. Namun ironinya, ketika keberhasilan mulai diraih, negara hadir bukan melalui apresiasi, melainkan melalui kewajiban fiskal yang tak bisa dihindari.
Fenomena ini kemudian oleh masyarakat disindir sebagai “kehidupan di negara konoha”—sebuah istilah populer yang menggambarkan ironi kebijakan, ketimpangan sosial, serta rasa frustrasi publik terhadap sistem yang dianggap belum sepenuhnya menghadirkan keadilan.
Para pengamat menilai, pajak pada prinsipnya merupakan instrumen pembangunan yang sah dan penting. Namun legitimasi moral pemungutan pajak akan selalu diuji ketika pelayanan publik, penciptaan lapangan kerja, penegakan hukum, hingga distribusi kesejahteraan masih dianggap belum optimal.
Pada akhirnya, kritik semacam ini bukan bentuk antipati terhadap negara, melainkan alarm sosial agar pemerintah lebih sensitif terhadap perjuangan rakyat kecil. Sebab negara ideal bukan hanya hadir saat menarik kewajiban, tetapi juga hadir ketika warganya sedang berjuang membangun masa depan. (Ronny.R)
EkspresiBanten.id Partisipatif, Informatif & Aktif Berbagi Berita
