Jakarta – Ekspresi Banten, rupiah yang kian tak terkendali hingga menyentuh level Rp17.500-an per dolar AS bukan sekadar gejolak pasar biasa, melainkan sinyal bahaya bagi kedaulatan ekonomi bangsa. Demikian pandangan tajam Ahli Hukum Tata Negara Mochamad Moro Asih.
Menurut Bung Moro, pemerintah dan otoritas moneter harus segera menyadari bahwa mata uang nasional bukan hanya alat tukar, melainkan manifestasi kekuatan konstitusional negara. “Ketika rupiah terus terpuruk akibat tekanan eksternal yang berulang dan respons domestik yang lamban, ini bukan lagi soal ekonomi semata. Ini soal kegagalan menjaga kemandirian fiskal dan moneter yang diamanatkan UUD 1945,” tegasnya dengan nada tegas.
Ia menilai, pelemahan rupiah yang dipicu kombinasi suku bunga The Fed yang tinggi, lonjakan harga minyak global akibat ketegangan geopolitik, serta derasnya arus modal keluar, telah memperlihatkan kerapuhan struktur ekonomi Indonesia. “Kita terlalu bergantung pada dolar sebagai patokan. Ini bukan kebijakan yang berdaulat, melainkan ketergantungan yang berbahaya. Jika dibiarkan, inflasi impor akan memangsa daya beli rakyat, utang luar negeri membengkak, dan stabilitas nasional terancam,” ujar Bung Moro.
Lebih lanjut, Ahli hukum tata negara ini menekankan perlunya langkah konstitusional yang tegas. “Bank Indonesia dan pemerintah pusat memiliki kewajiban konstitusional untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Jika kebijakan setengah hati terus berlanjut, maka sudah saatnya DPR dan lembaga pengawas negara turun tangan melakukan pengawasan ketat agar tidak terjadi pelanggaran terhadap prinsip kesejahteraan rakyat sebagaimana diamanatkan konstitusi,” tandasnya.
Bung Moro mengingatkan, sejarah telah membuktikan bahwa mata uang yang rapuh kerap menjadi pintu masuk bagi intervensi asing dan ketidakstabilan politik. “Jangan biarkan rupiah menjadi korban ego kebijakan jangka pendek. Saatnya kita bangun fondasi ekonomi yang tangguh, berbasis produksi domestik, dan kebijakan moneter yang berpihak pada kepentingan nasional, bukan pada selera investor asing,” pungkasnya.
Pandangan Bung Moro ini muncul di tengah kekhawatiran meluas di kalangan ekonom dan pengamat bahwa pelemahan rupiah berkepanjangan bisa memicu efek domino yang jauh lebih berbahaya bagi perekonomian Indonesia. (Red)
EkspresiBanten.id Partisipatif, Informatif & Aktif Berbagi Berita
