Agen pulsa murah

Tangis Seorang Anak di Samping Jenazah Ayahnya: Saat Keadilan Tak Lagi Berjalan Bersama Kemanusiaan


Bali –Ekspresi Banten, Di antara lantunan doa dan isak tangis para pelayat, suara lirih seorang anak perempuan berulang kali memanggil ayahnya yang telah terbujur kaku. Ia berharap ada jawaban, namun yang tersisa hanyalah keheningan. Tangisan itu menjadi potret paling menyayat dari sebuah tragedi yang kemudian viral di media sosial, mengguncang nurani publik dan memantik perdebatan tentang batas antara kemarahan, hukum, dan kemanusiaan.

Peristiwa tersebut berkaitan dengan meninggalnya KD, warga Desa Sidatapa, Kabupaten Buleleng, yang meninggal dunia setelah diduga menjadi korban pengeroyokan massa di wilayah Baturiti, Kabupaten Tabanan. Sebelumnya, KD diduga terlibat dalam kasus pencurian seekor ayam aduan. Namun, di balik narasi dugaan tindak pidana itu, tersimpan kisah pilu sebuah keluarga yang kini kehilangan sosok kepala keluarga.

Baca Juga:  Kehakiman sebagai Garda Pengendali Kekuasaan Eksekutif dan Legislatif

KD meninggalkan seorang istri dan tiga anak. Anak sulung telah berkeluarga, anak kedua masih menempuh pendidikan di kelas 1 SMA, sementara putri bungsunya baru duduk di bangku kelas 1 SD. Kehilangan tersebut bukan sekadar catatan statistik dalam sebuah peristiwa kriminal, melainkan luka mendalam yang harus mereka tanggung sepanjang hidup.

Perbekel Desa Sidatapa, I Made Sutama, yang ikut menjemput jenazah korban hingga ke rumah duka, mengaku momen paling menggetarkan baginya adalah saat menyaksikan anak-anak korban menangis di hadapan jenazah ayah mereka. Baginya, pemandangan itu menjadi pengingat bahwa setiap tindakan yang menghilangkan nyawa akan meninggalkan penderitaan panjang bagi keluarga yang ditinggalkan.

Ia menegaskan bahwa negara telah memiliki mekanisme hukum yang harus dihormati oleh setiap warga negara. Apabila seseorang diduga melakukan tindak pidana, penyelesaiannya harus diserahkan kepada aparat penegak hukum, bukan melalui tindakan main hakim sendiri.

Baca Juga:  Daftar Nama 3 Capres Final Musra yang Diserahkan ke Jokowi

Tragedi ini kembali menjadi refleksi bahwa supremasi hukum merupakan fondasi utama negara hukum. Ketika emosi massa mengambil alih peran hukum, maka yang lahir bukanlah keadilan, melainkan potensi pelanggaran hak asasi manusia yang dapat berujung pada hilangnya nyawa.

Kasus ini diharapkan menjadi pelajaran bersama bahwa tidak ada dugaan pelanggaran hukum yang dapat dijadikan pembenaran untuk melakukan kekerasan. Setiap orang berhak memperoleh proses hukum yang adil, sementara setiap nyawa memiliki nilai yang tidak dapat digantikan.

Di tengah derasnya arus informasi di media sosial, video tangisan seorang anak yang kehilangan ayahnya menjadi pengingat bahwa di balik setiap berita kriminal selalu ada sisi kemanusiaan yang tak boleh diabaikan. Sebab ketika hukum dikalahkan oleh amarah, yang paling menderita bukan hanya korban, melainkan juga keluarga yang harus hidup dengan kehilangan untuk selamanya. (Red)


Baca Juga

Ombudsman Sidak Lapas Cibinong, Temukan Dugaan “Klaster Mewah” dan Mobil Mewah

Bogor —Ekspresi Banten, Sorotan terhadap tata kelola pemasyarakatan kembali mengemuka setelah Ombudsman Republik Indonesia melakukan …

Agen pulsa murah