KOTA TANGERANG —Ekspresi Banten, Banjir kembali merendam ratusan rumah warga di Kampung Candulan, Kelurahan Petir, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang, Banten, Selasa (5/5), dengan ketinggian air mencapai lebih dari 180 sentimeter. Peristiwa yang terus berulang ini kembali memunculkan kritik keras terhadap kepemimpinan Pemerintah Kota Tangerang yang dinilai belum mampu menghadirkan solusi permanen atas persoalan banjir yang sudah berlangsung bertahun-tahun.
Aktivis dari Forum Pemuda Kota Tangerang Bersatu, Ronny Roren, secara tegas menyampaikan bahwa kondisi ini merupakan potret nyata kegagalan kepemimpinan daerah dalam menjalankan fungsi mitigasi dan tata kelola lingkungan.

“Banjir di Cipondoh bukan lagi bisa disebut musibah tahunan, melainkan kegagalan sistemik yang terus dipertontonkan kepada publik. Ketika warga terus menjadi korban dari tahun ke tahun, maka publik berhak menilai bahwa Wali Kota gagal menghadirkan solusi konkret dan berkelanjutan,” tegas Ronny.
Menurutnya, pemerintah daerah selama ini lebih banyak menampilkan narasi seremonial dibanding langkah strategis yang menyentuh akar persoalan seperti normalisasi sungai, pembangunan sistem drainase terpadu, penataan daerah resapan, hingga koordinasi lintas wilayah terkait kiriman air dari hulu.
“Tidak cukup hanya turun saat banjir datang, lalu berfoto di lokasi pengungsian. Kepemimpinan diuji dari kemampuan mencegah, bukan sekadar merespons setelah rakyat terdampak,” lanjutnya.
Banjir di wilayah tersebut terjadi akibat tingginya intensitas hujan serta meluapnya Kali Bendungan Polor setelah mendapat kiriman air dari wilayah Bogor. Debit air yang terus meningkat melimpas ke kawasan permukiman warga yang memiliki kontur dataran lebih rendah.
Data sementara menunjukkan sedikitnya sekitar 700 kepala keluarga di RW 5, RW 6, dan RW 7 terdampak banjir dengan ketinggian air bervariasi antara 40 hingga 180 sentimeter.
Lurah Petir, Budi Wasono, menyebut banjir kali ini berdampak pada ratusan kepala keluarga di empat RW.
“Sudah rutin banjir kalau hujan deras. Wilayah kami yang terdampak sekitar 700 KK,” ujar Budi.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kota Tangerang, Mahdiar, menyampaikan sebanyak 45 kepala keluarga saat ini mengungsi di Rumah Pemotongan Hewan, sementara 15 kepala keluarga lainnya mengungsi di Musala Al-Maarif. Sebagian warga lainnya memilih bertahan di lantai dua rumah mereka atau menumpang di rumah kerabat yang lebih aman.
Salah satu warga, Heri, mengaku air mulai masuk ke rumahnya sejak Senin malam.
“Air mulai masuk sekitar pukul 10 malam, memang dari sore hujan sudah cukup deras,” ujarnya.
Ronny menegaskan, pemerintah tidak boleh lagi menjadikan faktor cuaca sebagai alasan berulangnya bencana yang sama.
“Jika banjir datang terus di titik yang sama, dengan pola yang sama, dan korban yang sama, maka yang bermasalah bukan cuaca—melainkan kebijakan. Kota ini butuh keberanian politik, bukan sekadar pencitraan birokrasi,” pungkasnya.
Warga kini berharap pemerintah pusat maupun Pemerintah Kota Tangerang segera mengambil langkah konkret dan menghadirkan solusi permanen agar tragedi serupa tidak terus menjadi warisan tahunan bagi masyarakat Cipondoh.(red)
EkspresiBanten.id Partisipatif, Informatif & Aktif Berbagi Berita
