
EKSPRESIBANTEN.ID, KOTA TANGERANG — RSUD Kota Tangerang kembali membuktikan kapasitasnya sebagai rumah sakit rujukan TBC terdepan di wilayah Tangerang dengan mencetak prestasi berskala nasional dalam penanggulangan Tuberkulosis (TBC) paru. Melampaui berbagai indikator kinerja nasional, rumah sakit ini menunjukkan performa unggul baik pada penanganan TBC sensitif obat maupun resisten obat (TBC RO).
Prestasi ini disampaikan oleh dr. Hesti Setiastuti, Sp.P., dokter spesialis paru sekaligus tenaga kunci dalam layanan TBC RSUD Kota Tangerang.
“RSUD Kota Tangerang menjadi pusat rujukan TBC dan capaian kita baik untuk TBC RO maupun TBC yang sensitif obat,” ujar dr. Hesti.
Layanan TBC Berstandar Nasional dan Berbasis PPI Ketat
Menurut dr. Hesti, layanan TBC di RSUD telah diposisikan sesuai standar nasional dengan menerapkan sistem Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) yang ketat. RSUD memiliki empat dokter spesialis paru yang menangani layanan TBC, yaitu:
dr. Hesti Setiastuti, Sp.P
dr. Usynara, Sp.P
dr. Fitri, Sp.P
dr. Virginia, Sp.P
Pelayanan rawat jalan ditempatkan di gedung terpisah sebagai bagian dari standar PPI untuk memastikan alur pasien aman dan tidak bercampur dengan layanan non-infeksi.
Pada pelayanan rawat inap, RSUD Kota Tangerang dilengkapi ruang bertekanan negatif untuk mencegah penularan melalui udara. Saat ini tersedia:
6 ruang untuk pasien TBC resisten obat (RO)
18 ruang untuk pasien TBC sensitif obat
Pemisahan total antara layanan infeksi dan non-infeksi menjadi salah satu kunci efektivitas pengendalian penularan.
Capaian Kinerja Melampaui Target Nasional
Sepanjang tahun 2024, capaian layanan TBC RSUD Kota Tangerang berada di atas rata-rata nasional. Beberapa indikator strategis antara lain:
Penemuan kasus TBC mencapai 99% (melampaui target nasional 95%).
Dari 1.587 terduga TBC, 924 pasien terkonfirmasi positif.
838 pasien memulai pengobatan, dan 786 pasien berhasil sembuh—tingkat kesembuhan 94%, lebih tinggi dari target nasional 90%.
Pada TBC resisten obat, RSUD mendeteksi 31 pasien, dan 30 pasien (98%) telah memulai pengobatan.
Kinerja positif ini berlanjut pada 2025. Hingga bulan berjalan, RSUD mencatat:
Penemuan kasus TBC sensitif obat mencapai 98%, mencerminkan sistem surveilans aktif yang solid.
“Ini hasil dari sistem layanan yang kuat serta jejaring kolaborasi kami dengan Dinas Kesehatan dan puskesmas-puskesmas di Kota Tangerang,” jelas dr. Hesti.
Meski mencatat prestasi tinggi, dr. Hesti mengungkapkan bahwa tantangan masih muncul dari pasien yang tidak konsisten menjalani pengobatan.
“Ada yang menolak memulai pengobatan, ada juga yang berhenti di tengah jalan sehingga terjadi putus obat,” ujarnya.
Untuk menanggulangi hal tersebut, RSUD Kota Tangerang menerapkan Standar Prosedur Operasional (SPO) pasien putus obat, antara lain yakni enelusuran langsung ke rumah pasien yang berhenti berobat, Kolaborasi intensif dengan Dinas Kesehatan dan kader kesehatan, Edukasi mendalam untuk mengembalikan pasien ke jalur perawatan agar tidak terjadi resistensi. (adv)
EkspresiBanten.id Partisipatif, Informatif & Aktif Berbagi Berita
