Tangerang — Ekspresi Banten, Pagi yang semestinya berjalan dalam ritme rutinitas mendadak berubah menjadi lanskap duka yang tak terperi. Dalam hitungan detik yang nyaris tak terbayangkan, dua rangkaian kereta api saling melaju di jalur tunggal tanpa kesadaran akan ancaman yang mengintai di depan mata. Tabrakan pun tak terelakkan—sebuah benturan keras yang mengoyak logika keselamatan dan merenggut ratusan nyawa dalam satu peristiwa tragis.
Peristiwa yang kemudian dikenal sebagai Tragedi Bintaro 1987 ini bukan sekadar kecelakaan transportasi biasa. Ia adalah akumulasi dari kelalaian sistemik—terutama dalam komunikasi dan koordinasi operasional di jalur tunggal yang seharusnya menuntut presisi tinggi dan disiplin absolut.
Menurut berbagai catatan, kesalahan fatal bermula dari miskomunikasi antarpetugas pengatur perjalanan kereta. Informasi yang tidak tersampaikan secara utuh menciptakan ilusi keamanan semu, seolah jalur telah steril. Padahal, dua kereta berada dalam lintasan yang sama—melaju dengan kecepatan yang tak lagi dapat dikendalikan oleh manusia maupun mesin.

Dentuman keras yang memecah pagi itu bukan hanya menghancurkan rangka baja, tetapi juga mengoyak rasa aman publik terhadap moda transportasi massal. Gerbong-gerbong yang ringsek, jeritan penumpang, serta kepanikan yang menyelimuti lokasi kejadian menjadi saksi bisu betapa mahalnya harga dari sebuah kelalaian.
Tragedi ini menandai titik balik dalam kesadaran nasional akan pentingnya reformasi sistem keselamatan transportasi. Ia menjadi alarm keras bahwa modernisasi infrastruktur harus berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia serta sistem komunikasi yang andal dan terintegrasi.
Lebih dari tiga dekade berlalu, luka kolektif akibat tragedi ini mungkin telah memudar, namun pelajarannya tetap relevan. Dalam dunia transportasi, tidak ada ruang untuk kompromi terhadap keselamatan. Setiap prosedur, sekecil apa pun, adalah benteng terakhir yang melindungi nyawa manusia.
Tragedi Bintaro 1987 bukan hanya catatan kelam sejarah—ia adalah pengingat abadi bahwa di balik setiap perjalanan, ada tanggung jawab besar yang tidak boleh diabaikan. (Ronny.R)
EkspresiBanten.id Partisipatif, Informatif & Aktif Berbagi Berita
