Ekspresi Banten-Tangerang, Sejak Rabu malam (10/9/2025), Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Tirta Benteng (TB) Kota Tangerang mengumumkan adanya kebocoran serius pada pipa distribusi utama berdiameter 1.000 milimeter di Jalan Dr. Sitanala, Neglasari. Peristiwa tersebut memicu krisis air bersih yang meluas, menjerat ribuan pelanggan di berbagai kawasan perumahan hingga kampung padat penduduk.
Dalam keterangan resmi melalui akun Instagram, manajemen Perumda TB menegaskan bahwa langkah perbaikan dilakukan segera sejak Rabu pukul 22.00 WIB. Namun, hingga Jumat pagi (12/9/2025), suplai air bersih masih belum normal di banyak titik terdampak.
“Dengan hormat, kami sampaikan bahwa telah teridentifikasi kebocoran pada jaringan distribusi utama. Demi menjamin keamanan serta keberlangsungan pasokan air bersih, perbaikan dilakukan secara mendesak,” tulis manajemen Perumda TB dalam pengumumannya.
Keterlambatan pemulihan suplai air membuat warga di sejumlah wilayah—mulai dari Keroncong Permai, Gebang Raya, hingga Periuk—terpaksa mencari alternatif. Pantauan di lapangan menunjukkan antrean panjang warga membeli air bersih dengan harga Rp1.000–Rp2.000 per ember dari penyedia swasta maupun rumah warga yang masih memiliki sumur. Sepeda motor hingga gerobak menjadi sarana darurat distribusi, sementara sebagian warga memasang pipa seadanya untuk menyalurkan air ke rumah.
Hasan (33), warga Keroncong Permai, mengaku frustasi dengan kondisi ini. “Cucian numpuk, mau BAB juga susah karena tidak ada air. Terpaksa beli air,” ungkapnya. Senada, Wati (40) menyebut kebocoran pipa telah memaksanya antre sejak Kamis malam demi kebutuhan keluarga. “Enggak tahu sampai kapan, karena enggak ada pemberitahuan juga. Kalau bisa secepatnya biar aktivitas warga tidak terganggu,” ujarnya.
Perumda TB mencatat, wilayah terdampak cukup luas, meliputi sedikitnya 25 perumahan dan permukiman padat, termasuk Griya Duta Asri, Bugel Mas Indah, Pondok Arum, Periuk Jaya Permai, Vila Tomang Raya, hingga kawasan ruko Rotterdam dan Panorama Cibodas.
Hingga kini, pihak perusahaan belum memberikan estimasi pasti mengenai waktu pemulihan distribusi. Kondisi ini mempertegas kerentanan sistem penyediaan air perkotaan, di mana satu kebocoran pipa besar dapat melumpuhkan layanan vital dan menekan aktivitas keseharian warga.
Krisis ini menuntut percepatan langkah perbaikan serta transparansi komunikasi publik agar tidak menambah keresahan masyarakat. Sebab, air bersih bukan sekadar layanan, melainkan kebutuhan fundamental yang menentukan kualitas hidup dan kesehatan warga Kota. (RR)
EkspresiBanten.id Partisipatif, Informatif & Aktif Berbagi Berita
